Thursday, 18 January 2018

Wejangan KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur)..

Semangkuk Sup Rohani

Wejangan KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur)..
Jika Allah memudahkan bagimu mengerjakan sholat malam..
Maka janganlah memandang rendah orang orang yang tidur.

Jika Allah memudahkan bagimu melaksanakan puasa,.
Maka janganlah memandang rendah orang orang yg tidak berpuasa dengan tatapan menghinakan.

Jika Allah memudahkan bagimu membuka pintu untuk berjihad
Maka janganlah kamu memandang rendah orang orang yang tidak berjihad dengan pandangan meremehkan.

Jika Allah memudahkan dirimu dalam mengais rezeki bagimu
Maka jangan memandang rendah orang orang yang berhutang dan kurang rejekinya dengan pandangan yang mengejek & mencela.

Karena itu semua adalah titipan Allah yang suatu saat akan kau pertanggung jawabkan.

Jika Allah memudahkan pemahaman agama bagimu
Maka janganlah meremehkan orang orang yang belum paham dengan pandangan hina

Jika Allah memudahkan ilmu bagimu
Maka janganlah kamu sombong & bangga diri
Karena Allah-lah yang memberimu pemahaman itu.

Boleh jadi orang yang tidak mengerjakan qiyamullail, puasa, tidak berjihad dsb,
Mereka lebih dekat ke Allah daripada dirimu.

#Sang Guru Bangsa & Semoga wejangan ini bermanfaat, Insyaa Allah  khususnya buat diri saya sendiri. Aamiin.

خصوص الئ روح Gus Dur
الفاتحة...

Wednesday, 17 January 2018

Rahasia dan keutamaan Zikirullah

Rahasia dan keutamaan Zikirullah
zikir terdiri dari berbagai peringkat dan berbagai lafaz. Zikrullah yang paling baik ialah kalimah Tayyibah, La-Ilaha Illa-Allah.
Peraturan mengerjakan zikrullah
1. Suci dari hadas besar dan hadas kecil.
2. Menghadap Qiblat
3. Menutup aurat
4. Dimulai dengan hadiahkan fatihah kepada Rasulullah Salla-Allahu 'Alaihi WaSallam, Ahlul Bait, Sahabat serta sekalian Aulia' Allah.
5. Disudahi dengan doa
Cara mengerjakannya pada peringkat permulaan ialah dengan menyebut dengan lidah atau disebut zikir lisan secara kuat berserta dengan ingatan didalam hati akan kebesaran dan keagungan Allah. Ketika melafazkan zikir ini hati hendaklah turut merasakan kehebatan Allah meliputi seluruh alam. Jumlah zikir tiada hadnya. Lebih banyak seseorang melakukan zikrullah ini pada bilangannya lebih berkesanlah pada batin hatinya.
Apabila zikrullah ini dijadikan wirid, iaitu dilakukan secara terus menerus setiap hari pada bilangan tertentu sehingga memenuhi hatinya dan bercahaya2 maka cahaya zikir yang memenuhi hati ini akan melimpah pula ke seluruh jasad meliputi darah, daging, urat dan tulang.
Pada peringkat2 seterusnya seseorang akan merasakan kemesraan zikir ini pada ruh dan nafas. Kesudahannya seseorang itu akan melihat dirinya diliputi zikrullah; daripada lidah, hati, aqal, nafas dan ruh semuanya berzikir.
Pada peringkat permulaan seseorang perlu menyebutkan ucapan zikirnya dengan lidahnya secara berbunyi. Kemudian
peringkat demi peringkat zikir mengalir ke dalam diri, turun kepada hati, naik kepada roh dan seterusnya pergi semakin jauh iaitu kepada bahagian rahsia-rahsia, pergi lagi kepada yang lebih jauh iaitu bahagian yang tersembunyi sehinggalah kepada yang paling tersembunyi daripada yang tersembunyi. Sejauh mana zikir masuk ke dalam, peringkat yang dicapainya, bergantung kepada sejauh mana Allah dengan kemurahan-Nya membimbing seseorang.
Selain dari mengerjakan zikrullah dengan cara tertib ini, zikrullah dalam hati wajib diteruskan juga diluar; ketika makan, minum, sedang bekerja dsb. Pada peringkat permulaan keadaan ini memang sukar dilakukan. Tetapi jika diwiridkan sebagaimana tersebut diatas, mudah2an Allah Ta'ala akan memberi pertolonganNya sehingga seseorang dapat sentiasa berzikrullah.
Didalam Toriqat Sufiyyah, zikir La-Ilaha-Illallah serta zikir2 yang lainnya dikerjakan mengikut beberapa panduan, syarat, dan aliran garisan kalimah. Ini perlu dilakukan dengan mengambil talqin daripada Shaikh pemimpin kerohanian. Hasil daripada zikrullah yang dikerjakan melalui Ilmu Toriqat Sufiyyah jauh lebih berkesan dan lebih manfaatnya kepada keteguhan Iman dan Taqarrub Ilallah.
Zikir yang dilakukan dengan pimpinan guru Ma'rifat adalah jauh lebih berkesan kepada hati kerana ianya mempunyai silsilah dan adab2 yang khusus bagi mencapai keteguhan hati dan Iman.

Tuesday, 16 January 2018

WASIAT IMAM HASAN AL BASHRI RA.

WASIAT IMAM HASAN AL BASHRI RA.

"Engkau tidak akan memperoleh hakikat iman, selagi engkau mencela seseorang dengan sebuah aib yang terdapat juga pada dirimu sendiri."

"Perbaikilah aibmu, baru kemudian perbaiki aib orang lain."

"Setiap kau perbaiki satu aibmu, maka akan tampak aib orang lain yang harus kau perbaiki, dan akhirnya kau sibuk memperbaiki dirimu sendiri."

"Dan sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah SWT adalah dia yang sibuk memperbaiki dirinya sendiri."

"Sepanjang sejarah kehidupan manusia, tidak ada hari seperti hari kiamat, hari dimana aib-aib terbuka dan mata menangis."😭

Sejarah Singkat Perjalanan Organisasi JATMAN

Sejarah Singkat Perjalanan Organisasi JATMAN :
Pertama kali organisasi thariqah didirikan bernama JATM (Jamiyah Ahli Thariqah al-Muktabaroh) didirikan tahun 1957, pendiri JATM adalah :
1) Syaikh KH. Muslih bin Abdurrohman Mranggen;
2) Syaikh KH. Masruhan Mranggen;
3) Syaikh KH. Nawawi Berjan;
4) Andi Patopoy (Bupati Grobogan dari NU);
5) KH. Khudlori Tegalrejo;
6) KH. Mandzur Temanggung;
di pesantren API Tegalrejo Magelang, asuhan KH. Khudlori:
Muktamar I tahun 1958 memutuskan Rois Amm (1) : Syeikh KH. Baidlowi bin Abdul Aziz
(Pengasuh PP. al-Wahdah Lasem Rembang, beliau Mursyid thariqah Syattariyyah)
Muktamar II tahun 1963 memutuskan Rois Amm (2) : KH. Hafidz Rembang
Tahun 1968, Rois Amm (3) digantikan : KH. Arwani Kudus
Muktamar III tahun 1973, memutuskan Rois Amm (4), KH. Musta'in Romli
Muktamar NU 1979, organisasi JATM berubah menjadi JATMAN (Jamiyah Ahli Thoriqoh Al-Muktabaroh an-Nahdliyah) , sekaligus muktamar I bagi JATMAN, perbaikan dan penambahan struktrur organisasi. Memutuskan Rois Amm (1) : KH. Muslih bin Abdurrohman Mranggen.
Muktamar II 1984, di ponpes Paiton, memutuskan Rois Amm (2): KH. Muhammad Arwani Amin Kudus,
Mudir Amm : KH. DR. Idham Kholid
Muktamar III, di Ponpes Futuhiyyah, Mranggen Demak 1989, memutuskan Rois Amm (3): KH. Muhammad Adlan Aly (Pengasuh Ponpes Maskumambang, Dukun Sedayu Gresik)
Menjabat hanya 1 tahun, digantikan oleh Wakil Rois Amm, sebagai Rois Amm (4) : KH. Ahmad Muthohar bin Abdurrohman (Pengasuh Ponpes Futuhiyyah Mranggen Demak).
Mudir Amm tetap dipegang : KH. DR. Idham Kholid,
Muktamar IV tahun 1994 di Malang, Memutuskan tetap Rois Amm : KH. Ahmad Muthohar bin Abdurrohman
Mudhir Amm tetap : KH. DR. Idham Kholid.
Muktamar V tahun 2000 di Pekalongan, memutuskan Rois Amm (5) : Habib Lutfi bin Yahya,
Mudir Amm : KH. Lutfi Hakim Muslih
Muktamar VI tahun 2012 di Malang, memutuskan Rois Amm tetap : Habib Lutfi bin Yahya, sampai sekarang
Mudir Amm : KH. Abdul Mu'ti Nurhadi, SH, Surabaya (alm)
(Sumber Buku Gerakan Sufi Kontemporer, Geliat Jatman dalam Pengembangan Keorganisasian 2012 - 2015 oleh Prof. DR. Abdul Hadi bin KH. Ahmad Muthohar - Wakil Mudhir Amm Jatman)

Thursday, 11 January 2018

Zuhud dan Kemewahan Dunia

*ZUHUD DAN KEMEWAHAN DUNIA.*

Seringkali telinga kita sudah familier dengan kata-kata zuhud. Dan anehnya ketika tersebut dengan kata  zuhud, gambaran kita adalah sosok yang lusuh  compang-camping, berbau, dan jauh dari kemewahan. Padahal defini zuhud sendiri yang dinukilkan dari kitab Risalatul Qusyairiyah,
Menurut Imam Sufyan Ats-Tsauri, adalah memperkecil cita-cita bukan memakan sesuatu yang keras dan bukan pula memakai pakaian mantel yang kusut. Menurut Ibnu Jala’, yang dimaksud zuhud adalah memandang dunia hanya pergeseran bentuk yang tidak mempunyai arti dalam pandangan. Sedangkan menurut Abu Sulaiman Ad-Darani, arti zuhud adalah meninggalkan aktifitas yang mengakibatkan jauh dari Allah SWT.

Pada zaman para sahabat sendiri, ada orang kaya raya tapi juga zuhud, dan ada pula yang miskin tapi juga zuhud.
Zuhud itu hanya soal ketergantungan hati.
Jika memiliki benda benda mewah, dan hatinya tidak terpaut kepada dunia hal ini dinamakan zuhud. Dan jika orang yang papa tapi hatinya berlebihan dalam cinta dunia ini  bukan zuhud. Dan orang yang miskin dan papa akan tetapi hatinya bergantung terus kepada Allah inilah yang dinamakan zuhud.

Sebuah cerita dari guru kami Habib Ali Al Jufri tentang makna zuhud dan implementasi dari dua sudut pandang.

Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib cucu baginda Nabi Muhammad SAW. Imam pada zamannya, panutan  kaumnya. Beliau selalu dalam keadaan memakai pakain yang paling baik dan mahal. Sehingga sahabatnya dari golongan orang orang zuhud dan berpakaian lusuh  bertanya;
" mengapa engkau memakai pakaian seperti ini, padahal engkau adalah pemimpin umat ?"
" Bukankah kita di ajarkan untuk zuhud terhadap dunia ?"

Beliau menjawab, dengan tenang;

"  Pakaianku ini berkata;
‎انا غني عما في ايديكم
Iniloh, saya kaya, saya tidak butuh terhadap pemberian kalian"

Sedangkan di satu sisi, Uwais al Qoroni, seseorang yang jika ia berdoa maka pasti akan dikabulkan seperti yang disabdakan Nabi Muhammad SAW, hingga  pemimpin khalifah pada saat itu Umar bin Khottob dan Ali bin abi Tholib mencari carinya untuk meminta doa dan menemuinya dalam keadaan pakaian yang compang camping sedangkan ia  makan dari sisa-sisa tumpukan sampah di pasar.
Beliau berdua adalah sosok yang zuhud, sosok yang dunia tidak bisa melalaikan keduanya dari pada mengingat  Allah SWT. Dua sosok yang berbeda tapi memiliki makna yang sama, yakni ketergentungannya hanya kepada Allah semata.

Kemudian jika kita runtut, ada Imam Abu Hasan as-Syadzili, Ibnu Hajar al Asqolani, mereka adalah Ulama yang kaya raya tapi dengan kekayaannya tidak sampai melupakan Allah yang maha esa.
Pada saat ini kita bisa menyaksikan beliau Al Mukarrom KH. Nurul Huda Jazuli Ploso kediri, al Maghfurlahu RKH.M.Badruddin Anwar, Annur Malang, dan masih banyak yang lainnya.

Akan tetapi kita juga tidak boleh _ngoyo_ , ingin di anggap zuhud dengan sebab kemewahan, atau ingin dianggap zuhud sebab kemiskinan, berlakulah sesuai maqom masing-masing.  _Dilakoni opo enek’e_ Seperti yang dituturkan oleh Hikam ibnu athoillah as Sakandari.
‎ِارَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ اِقَامَةِ اللهِ اِيَّكَ فِى الأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفِيَّةِ , وَاِرَادَتُكَ الاَسْبَابَ مَعَ اِقَامَةِ اللهِ اِيَّكَ فِى التَّجْرِيْدِ اِنْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ العَلِيَّةِ

 “Kehendakmu untuk menggapai maqom tajrid padahal kehendak Allah SWT mendudukkanmu di maqom asbab adalah merupakan kehendak syahwat yang halus. Dan kehendakmu untuk menduduki maqom asbab padahal Allah SWT mendudukkanmu di maqom tajrid, berarti engkau telah turun dari tingkat derajat yang tinggi”.

Jika masih belum paham tulisan ini dibaca lagi pelan pelan sambil mengingat tembang lagu Bu Nyai Nela Kharisma; Kalem-kalem wae, ojo cepet cepet mengko keserimpet. Hahahah

Kuat di lakoni ora kuat ditinggal ngopi.
Kel....kel...kel...


Salam Takdzim
Ahmad Zain Bad
Pondok Pesantren annur2.net Bululawang Malang.

Wednesday, 10 January 2018

Tauladan Syekh Abdul Hamid Pasuruan

*Tauladan Syekh Abdul Hamid Pasuruan*

*"Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan. “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas".*


*"Beliau sangat menghormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah (yang baru saja wafat), bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia".*

*"Sikap tawadhu’ itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW., “Barangsiapa bersikap tawadhu’, Allah akan mengangkatnya.”*

*"Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan itu tersimpan sikap keras dan temperamental. Hanya berkat riyadhah (latihan) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat cepat marah itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa. Riyadhah telah memberi beliau kekuatan nan hebat untuk mengendalikan amarah".*

*"Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika disorongkan oleh seorang santri hingga hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Waktu itu hari sudah larut malam. Beliau disorongkan karena dikira seorang santri. “Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah,” kata beliau dengan suara halus sekali".*

Monday, 8 January 2018

Tanda Cinta Kepada Allah SWT

Ada sebuah kisah, sewaktu masih kecil, Sayidina Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertanya kepada ayahnya, Sayyidina Ali bin Abi Tholib kw: "Apakah engkau mencintai Allah?"
Sayyidina Ali kw menjawab, "Ya".
Lalu Sayidina Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu (Nabi Saw.) ?"
Sayyidina Ali kw kembali menjawab, "Ya".
Sayidina Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai Ibuku?"
Lagi-lagi sayyidina Ali menjawab,"Ya".
Sayidina Husain kecil kembali bertanya: "Apakah engkau mencintaiku?"
Sayyidina Ali bin abi tholib kw menjawab, "Ya".
Terakhir Sayidina Husain yang masih polos itu bertanya, "Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?"
Kemudian Sayidina Ali kw menjelaskan: "Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah".
Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.
Dalam kitab Al-Mahabbah, al Imam Al-Ghazali qs mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajad/level yang tinggi. "(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya." (QS. 5: 54).
Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah).
Ada seorang murid bertanya kepada Gurunya, “ Guru apakah tanda seseorang itu cinta kepada Allah..?”
Sang Guru menjawab, “Orang tersebut mencintai dan menyayangi makhluk-Nya.”
Dalam kitab Su'bul Iman diterangkan bahwa salah satu cabang dari iman adalah menyingkirkan duri dari jalan, agar secara fisik orang tidak terluka karena duri tersebut. Secara hakikat kita harus menghilangkan duri-duri"penyakit-penyakit" dari hati kita, agar tindakan dan ucapan kita tidak menyakiti orang lain.

Saturday, 6 January 2018

Tingkat Ilmu Setan

Tingkat Ilmu Setan
...
Setan tingkat PAUD - TK ngajari manusian untuk mengatakan
.
Iman itu apa ?
.
Setan tingkat SD - ngajari manusia untuk mengatakan
.
Iku kan jare to ?
.
Setan tingkat SMP - ngajari manusia untuk mengatakan
.
Saksi itu harus melihat - weruh be ora kok bersaksi 
.
Setan tingkat SMA/SMK - ngajari manusia untuk mengatakan
.
Kabeh wis neng awake dewe
.
Setan tingkat MAHA SISWA - mengajari manusia untuk mengatakan
.
Ga ada wujudnya kok disembah
.
Setan tingkat sarjana mengajari manusia untuk
.
mempercayai ratu kidul
.
Setan tingkat S.2 sampe PROFESOR mengajari manusia untuk
Membela setan
.
Setan itu jg sama2 makhluk Allah - ga boleh dibenci
.....
Sesungguhnya Kami 
telah 
menjadikan setan setan itu pemimpin
bagi 
orang orang yang tidak beriman
(al a'raf 27)

ILMU MARIFAT ISLAM SUNAN LAWU

ILMU MARIFAT ISLAM SUNAN LAWU
Menyikap Ajaran Ma'rifat Islam melalui
Huruf Hijaiyyah.
Bismillahir rahmaanir rahiim.
Huruf Hijaiyyah adalah huruf Al Qur'an,huruf milik Suku Quraisy sukunya Nabi Muhammad Saw ,jadi bukan huruf Bangsa Arab.sama halnya dengan huruf Jawa tidak sama dengan huruf Indonesia.pada diri manusia itu banyak terdapat huruf Hijaiyyah dan untuk mengenal dan mengerti huruf ini kita perlu mendalami ilmu Tajwid terlebih dahulu.mendalami da mengerti di sini bukan hanya menguasai dalam membacanya saja atau menulisnya saja tetqpi harus mengetqhui maknanya yg tersirat juga inilah huruf Hijaiyyah tsb :
ا ب ت ث ج ح خ دذ ر ز س ش ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل م ن و ه لاءي
yang terlihat jumlahnya ada 30 buah.padahal bila kita perhatikan dengan yang sebenarnya maka menjadi 33 huruf.coba perhatikan dengan seksama :
LAM ALIF لا : bukanlah ini dua huruf ?....
ALLOH : اﷲ lam awal dan lam akhir bukankah ini dua huruf..?...
Lalu perhatikan pada kalimat BISMILLAHI بسماﷲ pada kalimat ini terdapat huruf ب bila di tulis panjang artinya ada huruf ALIFnya yg tersembunyi.
Sekarang kita hitung sejenak maka hanya akan ada satu Alief saja padahal sesungguhnya bila kita teliti debgan benar Alief pada Huruf Hijaiyyah itu ada 5 buah coba perhatikan :
LAM ALIF ( لا) kita temukan satu alif lagi bukan ?...
THO ط ada Alief nya lagi bukan ?.....
ZHO ظ ada Alief nya lagi bukan ?......
BISMILLAH بسماﷲ ada Alief nya yg tersembunyi di depan huruf BA' bukan...?
Alif yang pertama.
Bila huruf Hijaiyyah ternyata ada 33 huruf maka kitab suci Al Qur'an pun pasti terdiri daru 33 JUZ dan inilah yang disebut dengan Al qur'anul Karim.lalu mana yg 3 Juz tadi ?.......
Yang 3 juz tadi adalah : Juz Amma ( Surah Al Ikhlas,Al Falaq,An Nas).
Juz Amma ini selalu di tulis pada bagia Akhir hanya saja dewasa inu Al Qur'an banyak di Tafsir kan oleh golongan Syareat dan mengenai Juz Amma ini di campur adukkan.
Sekarang perhatikan pada huruf :
A'IN ع artinya : ILMU.
HAMZAH ء artinya : AMAL.
Kedua huruf ini harus ada pada diri manusia karena merupakan Pelengkap .kemudian bila kita tulis kalimat ALLOH mengapa ada huruf Ha? Dan dr mana asalnya ?dst dst...
Sedangkan lagi bila kita menulis Terpisah seperti :
ADAM menjadi ADAMU.
IBRAHIM.....IBRAHIMU
YUSUF.......YUSUFU
Dan huruf ق membacanya harus dalam mulut ( tenggorokan) yg tersirat dari huruf ini adalah gambar janin pada diri manusia.di kepalanya masih memiliki 2 buah senjata ampuh ( HAQ) yaitu :
LAILATUL QODAR dan WAHYU TAJALI.
Huruf ك membacanya di luar mulut.ini bearti sudah di lahirkan di nyatakan sebagai Muhammad.محمد.
Huruf ي merupakan gambaran sangkakala BANGSA ARAB dan dari kata itu sendiri menyatakan akhir dr KEPUTUSAN/KEMATIAN.
Pada golongan Syariat Islam banyak kita jumpai bila kita sedang menghadapi orang yg dalam keadaan SAKARATOL MAUT mengapa selalu di Bacakan YASIN...??
Huruf ي dan س. Sekarang marilah kita hitung kedua huruf ini mempunyai Harokat 18 yg bearti :
1+8=9.hal ini tidak salah.tetapi sangat kasihan bagi yg sedang menghadapi Sakaratol Maut.karena dia akan LAMA MATINYA.
Bila kita menghadapi orang yg sedang Sakaratol Maut dengan membaca surah Al Kahfi niscaya orang tsb akan mudah dan cepat Meninggalnya / Cepat Matinya.(,ingat mendoakan orang cepat mati adalah dosa.kecuali saat sakaratul maut*pen)
Sebab Harokat ي ( YA'),dan ك ( KAF) mempunyai harokat 9 Juga.sama-sama 9 harokat.tetapi waktunya lebih Pendek.
Bila kita mengkaji huruf ALIF dan QOF (ق) itu sama saja sedang mengkaji mengkaji ILMU TAKHALLI.
Dan bila kita mengkaji Huruf Kaf sampai Ya' ini di sebut mengkaji Ilmu Tajali.jadi bila kita sedang mengkaji ( bukan membaca),semua huruf Hijaiyyah itu sama saja kita sedang membaca KITAB KIDAM MA'NA.
Membaca suratul Kahfi bagi orang yg sedang Sakaratol Maut itu sama saja dengan kita sedang mengingatkan dia akan semua perlengkapan yg harus dibawanya kembali ke USUL ( ALAM LAUHIL MAHFUS).
Inilah Huruf- huruf yang memiliki Harokat 10 (,sepuluh) antara lain :
ك ل م ن و ها لا ءي
Huruf-huruf tersebut sama dengan Harokatnya :
BISMILLAH

Friday, 5 January 2018

Tarekat Akmaliyah Syekh Siti Jenar

# Tarekat Akmaliyah Syekh Siti Jenar # edisi sekedar wawasan


"Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapantersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan (maksudnya tahap syariat (sholat,zakat,puasa dll),dst..)

Bagi syekh siti jenar, bentuk lafadz istighfar, shalawat,tasbih,tahlil dan semacamnya sebenarnya lafadz-lafadz yang menuntun manusia untuk menempuh jalan menuju kemanunggalan. sehingga kalimat-kalimat tersebut tidaklah cukup hanya dijadikan ucapan penghias bibir belaka. kalimat-kalimat tersebut hakikatnya adalah urat nadi perjalanan rohani manusia, yang dapat menyelami kedalam samudera ma’rifat untuk mengenal dan mendekatinya, kemudian menghampirinya untuk manunggal dalam keabadian. sehingga matra-matra dari kalimat itu akan tetap terbawa dalam kesadaran kematian. saat nyawa kehidupan lepas dari tubuh, kesadaranya tetap mengiringinya dengan senyum menuju haribaanya.
Jika anda berhasrat kuat untuk mengikuti jalan kami maka yang wajib anda sadari pertama-tama adalah kenyataan yang terkait dengan cara/thariq kami yang berbeda pada umumya yang dianut manusia. maksudnya, tarekat yang kami anut tidak mengenal adanya pir atau mursyid. karena yang disebut pir atau mursyid, menurut cara kami berada dalam diri manusia sendiri.sementara keberadaan guru hanya terbatas sebagai petunjuk untuk menuntun langkah awal seorang salik dalam guru sejati.
Dengan penjelasan ini hendaknya anda pahami bahwa pada cara kami tidak mengenal adanya wasilah maupun rabithah yang berwujud manusia. satu-satunya wasilah dan rabhitah adalah nur muhammad, yang ada didalam diri manusia. lewat nur muhammad itulah manusia akan tercapai sumber segala sumber. Anda boleh menamai cara ini sesuka hati anda, namun hendaknya anda ketahui bahwa Nabi Muhammad al-Musthafa SAW telah mewariskan dua cara kepada manusia.
-Cara yang pertama adalah tarekat Al-akmaliyah yang diwariskan lewat hadrat Ali bin Abu Thalib. tarekat yang akan anda pelajari dari syekh siti jenar adalah tarekat al akmaliyah. “sebagaimana yang telah kujelaskan sebelumnya bahwa pertama-tama tarekat al akmaliyah tidak mengenal pir atau mursyid dalam wujud manusia karena pada hakikatnya sudah ada pada diri tiap manusia.
-Kedua pir atau mursyid didalam diri manusia itulah yang disebut nur muhammad, yang akan menjadi penuntun sang salik di dalam menuju dia. karena itu, tarekat al-akmaliyah tidak mengenal wasilah dan rabithah dalam bentuk manusia. Wasilah dan rabithah dalam tarekat al-akmaliyah tidak dikenal adanya silsilah pir atau mursyid berdasar asas keturunan.
-Ketiga, para salik yang berjalan melewati tarekat al-akmaliyah wajib berkeyakinan bahwa segala sesuatu termasuk tarekat ini adalah milik Allah. itu berarti, keberadaan tarekat beserta seluruh pengikutnya adalah semata-mata karena kehendak Allah. dengan demikian, para pengikut tarekat ini hendaknya tidak membanggakan diri sebagai pendiri atau penguasa tarekat.
Anda tentu pernah mendengar kisah syaikh hussein bin mansyur al hallaj yang dihukum cincang dan mayatnya di bakar oleh al-muqtadir? dia adalah pengamal ajaran tarekat al-akmaliyah. Namun, murid-muridnya kemudian mendirikan tarekat hallajiyah. itu boleh dan sah-sah saja, walaupun akhirnya Hallajiyah tenggelam karena pengikut-pengikutnya membentuk lembaga baru dengan susunan hirarki kepemimpinan rohani atas dasar seorang manusia. sementara tarekat al-akmaliyah tetap lestaari hingga sekarang.
Antara Tarekat Al-akmaliyah dan Tarekat Al-anfusiyah hakikatnya sama, hanya nama saja yang berbeda. karena, Akmaliyah berasal dari Al-kamal, yakni pengejawentahan dari al-kamal yang dibentuk oleh al-jalal dan al-jamal.
Al-kamal itulah adam ma’rifat yang kepadanya ditiupkan ruh al-haqq dimana tersembunyi al-haqq. Al-kamal atau adam ma’rifat itulah yang disebut al-insan al-kamil. Sementara itu, Anfusiyah berasal dari al-anfus, an-nafs al-wahidah, yakni pengejawentahan an-nafs al-illahiyyah. an-nafs al-wahidah itulah adam ma’rifat yang kepadanya ditiupkan roh-nya, yakni roh al-haqq di mana tersembunyi al-haqq. an-nafs al-wahidah atau adam ma’rifat itulah yang disebut al-insan al-kamil.
#Semua tarekat itu benar, hanya nama dan cara-nya saja yang berbeda. justru cara itu menjadi salah dan sesat ketika sang salik menilai terlalu tinggi cara yang di ikutinya hingga menafikan cara yang lain. sebab, dengan itu sebenarnya sang salik memuliakan dan mengagungkan dan membenarkan keakuanya yang kerdil. berarti sang salik pada saat itu telah merampas hak Allah.
Karena kemuliaan, keagungan, dan kebenaran hanyalah miliknya. itulah sebabnya, dalil awal yang wajin dipatuhi oeleh seorang salik Akmaliyah adalah meyakini jalan lurus/sabil huda yang digelar oleh Allah kepada hamba-hamba yang mencarinya tidaklah tunggal/ wa al-ladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulan.
Hal yang paling penting anda pahami lagi adalah Tarekat al-akmaliyah ini hanyalah suatu cara untuk melewati jalan lurus. jadi jangan beranggapan bahwa cara ini adalah segala-galanya. artinya jangan menganggap bahwa siapa saja yang mengamalkan cara ini dan mengikuti jalan lurus yang ada di dalamnya pasti akan selamat sampai kepadanya. sebab keputusan terakhir ada di tangan-Nya juga. artinya sangat terbuka kemungkinan pengamal cara ini justru akan tersesat jalan, jika Dia menghendaki demikian.
Adapun sebagai pedoman untuk melintasi jalan lurus dengan cara Akmaliyah, dapat saya jelaskan sbb: pertama-tama yang harus anda pahami bahwa Allah tujuan akhir kita, adalah tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu bentuk apapun/ laisa kamitslihi syaiun. karena itu merupakan suatu keharusan fundamental bahwa untuk menuju dia, seorang salik harus mengarahkan kiblatnya seperti daud dan sulaiman, namun kiblat hati dan pikiran tetap hanya mengarah kepadan-Nya.
Hendaklah anda sadari bahwa perjalanan menuju Dia, subhanahu wa ta’ala, bukanlah perjalanan ajaib yang langsung secara gampang dalam tempo satu hari atau satu pekan. perjalanan menuju Dia sangatlah sulit dan penuh jebakan. karena harus melampui tujuh rintangan besar, yaitu tujuh lembah kasal, tujuh gunung riya’, tujuh rimba sum;ah, tujuh samudera ‘jub, tujuh benteng hajbun. Semua rintangan itu berjumlah tujuh, karena kita adalah makhluk yang hidup di atas permukaan bumi, Allah membentangkan tujuh lapis langit yang kokoh di atas kita /Qs.an-Naba’78:12sebagaimana bumipun berlapis tujuh /Qs.ath-Thalaq 86:12 dan samuderapun berlapis tujuh /Qs. Luqman 31:27. bahkan neraka bertingkat tujuh /Qs. al-Hijr 15:44. tidaklah anda ketahui bahwa surgapun berlapis tujuh. Tidaklah anda ketahui bahwa dalam beribadah kepada-Nya manusia telah diberi piranti tujuh ayat yang diulang-ulang dari Al-Qur’an/Qs. al-Hijr 44:87 untuk berhubungan dengan-Nya?(Qs. al-Hijr 15:87). Tidaklah anda sadari bahwa saat anda sujud maka tujuh anggota badan anda yang menjadi tumpuan??” Namun, diantara tujuh hal yang terkait dengan alam semesta ini, yang paling penting anda sadari adalah tujuh lapis hal yang berhubungan dengan keberadaan manusia yang di beri tujuh tahap usia, yakni radhi, fathim, shabiy, ghulam, syabb, kuhl, dan syaikh; yang berkait dengan tujuh nafsu manusia, yakni musawwilah, hayawaniyah, ammarah, iwwammah, mulhamah, muthma’inah, dan wahidah. sebab dengan menyadari adanya tujuh nafsu manusia maka anda akan memahami adanya TUJUH MARTABAT yang wajib anda lampui untk menuju kepadan-Nya. dan sekali lagi ingat-ingatlah bahwa perjalan rohani bukan perjalanan ajaib yang bisa tercapai dalam waktu singkat.
Rasulullah sendiri membutuhkan waktu lima belas tahun berkhalwat untuk mencapai tahap bertemu jibri AS di gua hira. dan perjalanan itu masih beliau laksanakan dengan tekun dan istiqomah hingga beliau mengalami isra’mi’raj: menghadap ke hadirat al-khaliq.””” Terdapat hubungan sekaligus perbedaan pelaksanaan antara tarekat akmaliyah dengan tarekat syatariyah. tarekat al-akmaliyah untuk dirimu pribadi, sedang tarekat syatariyah untuk engkau ajarkan khalayak ramai. wajib engkau ingat-ingat bahwa apa yang disebut tarekat itu pada dasarnya memiliki hakikat tujuan yang sama, meski nama dan caranya seolah-olah berbeda. itu sebabnya , jika engkau teliti benar keberadaan semua tarekat maka akan engkau dapati jalan lurus dan cara yang mirip satu dengan yang lain. di dalam beberpa tarekat misalnya, akan engkau dapati pemaknaan inti dari hakikat istighfar, salawat, tahlil dan nafs al-haqq yang sering di pilah-pilah sebagai dzikir jahr dan dzikir sirri.
Semua tarekat pasti mengajarkan istighfar, salawat, tahlil dan nafs al-haqq.
Semua tarekat pasti mengajarkan rahasia Muhammad sebagai pintu dan kunci untuk membuka hijabnya. Ada penjelasan mengapa tidak tarekat al-akmaliyah saja yang disebar luaskan kepada khalayak ramai? bukankah hal itu lebih afdol dibanding mengajarkan tarekat asy-syatariyah?ketahuilah,o salik, bahwa tarekat al-akmaliyah sejak semula memang tidak untuk diajarkan kepada khalayak ramai. tidakkah engkau ketahui kisah syaikh abu al-mughits al-husain bin mansyur bin muhammad al-baidhawi al-hallaj yang menimbulkan kekacauan ketika mengungkapkan pandangan dan pahamnya kepada khalayak ramai? Tidakkah semua orang saat itu tidak mampu memahami ucapan-ucapanya? Tidakkah hanya kesalah pahaman yang justru ditimbulkanya?”””” Ketahuilah salik, bahwa yang menjadi dasar tarekat al-akmaliyah adalah kembali kepada Allah subhanahu wata’ala, Tuhan, pencipta yang tak bisa di bayangkan dan tidak pula bisa dibandingkan dengan sesuatu.
Singkatnya dasar utama dari tarekat al-akmaliyah adalah perjalanan kembali ke asal. inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un! kembali kepada yang maha ghaib. maha kosong. maha tak terbandingkan.
Bagaimana engkau menjelaskan khalayak ramai tentang dia/huwa yang tak bisa digambarkan dan dibayangkan serta takterbandingkan? bagaimana cara engkau meminta khalayajk ramai untuk mengikuti jalanmu jika engkau tak bisa menjelaskan kepada mereka tentang kenikmatan, kelezatan, keindahan, kemuliaan, dan keagungan yang bakal engkau capai? bagaimana bisa engkau menyadarkan khalayak ramai tidaklah kembali kesurga yang penuh kenikmatan dan kelezatan, melainkan kembali kepada dia yang tak bisa digambarkan??”
Dengan uraian ini bukan berarti aku menempatkan tarekat al-akmaliyahsebagai tarekat yang khusus, apalagi lebih tinggi nilainya dari pada tarekat syatariyah. sekali-kali tidak demikian. sepengetahuanku, tarekat al-akmaliyah memang tidak pernah diajarkan secara terbuka, kecuali pada masa husein bin mansyur bin Muhammad al-baidhawi al-hallaj. entah jika suatu saat nanti Allah menghendaki-Nya..”””
Menurut pemahaman tarekat al-akmaliyah, dalam perjalanan rohani menuju Dia pada hakikatnya terdapat empat tahapan :
1.perjalanan al-insan menuju al-haqq/as-safar min al-haqq.
2.perjalanan kembali dari al-haqq/ as-safar fi al-haqq.
3.perjalanan kembali dari al-haqq menuju al-insan bersama al-haqq/as-safar min al-haqq ila al-insan bi al-haqq.
4.perjalanan al-insani di tengah ciptaan bersama al-haqq/safar al-insan fi al-khalq bi al-haqq.
Dengan uraian ini, o salik, jangan sekali-kali engkau bertanya soal manfaat dan kegunaan. sebab, jelas pada paham ini bahwa barang siapa yang di dalam perjalanannya telah sampai kepada al-haqq maka dia akan kehilangan keakuannya yang kerdil dan sempit. itu berarti, dia tidak akan berbicara tentang manfaat, keuntungan, kenikmatan, kelezatan dan kemuliaan menurut akal pikiran dan hasrat hatinya. artinya, dia yang telah sampai akan berada pada tingkatan tertinggi dari kepasrahan kepada-Nya. wama tasya’uma illa an yasya-a Allahu rabbu al-‘alamin”” /QS al-taqwir 81:29 itulah penjelasan sang guru sunan kejenar mengenai tarekat dan perjalan yang beliau capai hingga puncaknya dan juga hasil diskusi para guru yang memang benar-benar telah merasakan benar akan arti kebenaran itu sendiri.
#Hussein Ibn Mansyur Al Hallaj
Abad ketiga hijriyah merupakan abad yang paling monumental dalam sejarah teologi dan tasawuf. Lantaran, pada abad itu cahaya Sufi benar-benar bersinar terang. Para Sufi seperti Sari as-Saqathy, Al-Harits al-Muhasiby, Ma’ruf al-Karkhy, Abul Qasim al-Junaid al-Baghdady, Sahl bin Abdullah at-Tustary, Ibrahim al-Khawwash, Al-Husain bin Manshur al-Hallaj, Abu Bakr asy-Syibly dan ratusan Sufi lainya.
Di tengah pergolakan intelektual, filsafat, politik dan peradaban Islam ketika itu, tiba-tiba muncul sosok agung yang dinilai sangat kontroversial oleh kalangan fuqaha’, politisi dan kalangan Islam formal ketika itu. Bahkan sebagian kaum Sufi pun ada yang kontra. Yaitu sosok Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj. Sosok yang kelak berpengaruh dalam peradaban teosofia Islam, sekaligus menjadi watak misterius dalam sejarah Tasawuf Islam.
Nama lengkapnya adalah al-Husain bin Mansur, populer dipanggil dengan Abul Mughits, berasal dari penduduk Baidha’ Persia, lalu berkembang dewasa di Wasith dan Irak. Menurut catatan As-Sulamy, Al-Hallaj pernah berguru pada Al-Junaid al-Baghdady, Abul Husain an-Nury, Amr al-Makky, Abu Bakr al-Fuwathy dan guru-guru lainnya.
Walau pun ia ditolak oleh sejumlah Sufi, namun ia diterima oleh para Sufi besar lainnya seperti Abul Abbad bin Atha’, Abu Abdullah Muhammad Khafif, Abul Qasim Al-Junaid, Ibrahim Nashru Abadzy. Mereka memuji dan membenarkan Al-Hallaj, bahkan mereka banyak mengisahkan dan memasukkannya sebagai golongan ahli hakikat. Bahkan Muhammad bin Khafif berkomentar, “Al-Husain bin Manshur adalah seorang a’lim Rabbany.”
Pada akhir hayatnya yang dramatis, Al-Hallaj dibunuh oleh penguasa dzalim ketika itu, di dekat gerbang Ath-Thaq, pada hari Selasa di bulan Dzul Qa’dah tahun 309 H.
Kelak pada perkembangannya, teori-teori Tasawuf yang diungkapkan oleh Al-Hallaj, berkembang lebih jauh, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Araby, Al-Jiily, Ibnu Athaillah as-Sakandary, bahkan gurunya sendiri Al-Junaid punya Risalah (semacam Surat-surat Sufi) yang pandangan utuhnya sangat mirip dengan Al-Hallaj. Sayang Risalah tersebut tidak terpublikasi luas, sehingga, misalnya mazhab Sufi Al-Junaid tidak difahami secara komprehensif pula. Menurut Prof Dr. KH Said Aqiel Sirraj, “Kalau orang membaca Rasailul Junaid, pasti orang akan faham tentang pandangan Al-Hallaj.”
Pandangan Al-Hallaj banyak dikafirkan oleh para Fuqaha’ yang biasanya hanya bicara soal halal dan haram. Sementara beberapa kalangan juga menilai, kesalahan Al-Hallaj, karena ia telah membuka rahasia Tuhan, yang seharusnya ditutupi. Kalimatnya yang sangat terkenal hingga saat ini, adalah “Ana al-Haq”, yang berarti, “Akulah Allah”.
Tentu, pandangan demikian menjadi heboh. Apalagi jika ungkapan tersebut dipahami secara sepintas belaka, atau bahkan tidak dipahami sama sekali.
Para teolog, khususnya Ibnu Taymiyah tentu mengkafirkan Al-Hallaj, dan termasuk juga mengkafirkan Ibnu Araby, dengan tuduhan keduanya adalah penganut Wahdatul Wujud atau pantheisme.
Padahal dalam seluruh pandangan Al-Hallaj tak satu pun kata atau kalimat yang menggunakan Wahdatul Wujud (kesatuan wujud antara hamba dengan Khaliq). Wahdatul Wujud atau yang disebut pantheisme hanyalah penafsiran keliru secara filosufis atas wacana-wacana Al-Hallaj. Bahkan yang lebih benar adalah Wahdatusy Syuhud (Kesatuan Penyaksian). Sebab yang manunggal itu adalah penyaksiannya, bukan DzatNya dengan dzat makhluk.Para pengkritik yang kontra Al-Hallaj, menurut Kiai Abdul Ghafur, Sufi kontemporer dewasa ini, melihat hakikat hanya dari luar saja. Sedangkan Al-Hallaj melihatnya dari dalam.
Sebagaimana Al-Ghazali melihat sebuah bangunan dari dalam dan dari luar, lalu menjelaskan isi dan bentuk bangunan itu kepada publik, sementara Ibnu Rusydi melihat bangunan hanya bentuk luarnya saja, dan menjelaskannya kepada publik pula. Tentu jauh berbeda kesimpulan Al-Ghazali dan Ibnu Rusydi.
Setidak-tidaknya ada tiga keleompk besar dari kalangan Ulama, baik fuqaha’ maupun Sufi terhadap pandangan-pandangan Al-Hallaj ini. Mereka ada yang langsung kontra dan mengkafirkan; ada pula yang secara moderat tidak berkomentar; dan ada yang langsung menerima dan mendukungnya.
Salah Satu syair yg kontroversi dri Al Hallaj
Aku adalah Dia yang kucinta dan Dia yang kucinta adalah aku Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh.
Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia, dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat aku
Maha suci zat yang sifat kemanusiaan-Nya, membukakan rahasia cahaya keTuhanan-Nya yang gemilang.
Kemudian kelihatan baginya mahluk-Nya, dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum
Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku, sebagaimana anggur disatukan dengan air murni.
Jika sesuatu menyentuh Engkau, ia meyentuhku pula, dan ketika itu dalam tiap hal Engkau adalah aku.
Aku adalah rahasia Yang Maha Benar, dan bukanlah Yang Maha Benar itu aku Aku hanya satu dari yang benar, maka bedakanlah antara kami
Sebelumnya tidak mendahului-Nya, setelah tidak menyela-Nya, daripada tidak bersaing dengan Dia dalam hal keterdahuluan, dari tidak sesuai dengan Dia, ketidak menyatu dengan dia, Dia tidak mendiami Dia, kala tidak menghentikan Dia, jika tidak berunding dengan Dia, atas tidak membayangi Dia,dibawah tidak menyangga Dia, sebaliknya tidak menghadapi-Nya, dengan tidak menekan Dia, dibalik tidak mengikat Dia, didepan tidak membatasi Dia, terdahulu tidak memameri Dia, dibelakang tidak membuat Dia luruh, semua tidak menyatukan Dia, ada tidak memunculkan Dia, tidak ada tidak membuat Dia lenyap, penyembunyian tidak menyelubungi Dia, pra-eksistensi-Nya mendahului waktu, adanya Dia mendahului yang belum ada, kekalahan-Nya mendahului adanya batas.
Di dalam kemuliaan "tiada aku", atau Engkau atau kita, Aku, Kita, Engkau dan Dia seluruhnya menyatu
#Syeikh Siti Jenar
Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Syekh Abdul Jalil, Sitiburit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran – ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah "budi pekerti".
Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang hidup pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan Tuhan.
Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ;
1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt salat, zakat dll);
2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu;
3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan
4. Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya.
Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapantersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang Syekh.
Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan ‘syariat’.
Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap ‘hakekat’ dan bahkan ‘ma’rifat’kepada Allah (kecintaan dan pengetahuan yang mendalam kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata ‘SESAT’.
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing – masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda – beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing – masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.
Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia (“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)”)>. Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham ‘Manunggaling Kawula Gusti’.
Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar.
Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia tidak dihukum mati oleh Wali Songo hingga ia meninggal dan ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain Syekh Abdul Jalil atau Sunan Jepara..
Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebo Kenanga dan Ki Ageng Tingkir.
#Hamzah Al Fansuri
Namanya adalah Hamzah al-Fansuri. Berdasarkan kata fansur yang menempel pada namanya ini dapat diketahui bahwa ia berasal dari Fansur (sebutan orang Arab terhadap Bandar Barus) yang banyak menghasilkan kapur barus yang sekarang merupakan sebuah kota kecil di pantai barat Sumatra Utara yang terletak antara Sibolga dan Singkel (Aceh). Mengenai bahwa dia berasal dari barus ini disebutnya beberapa kali dalam kitabnya “Syair Jawi”.
Di bidang keilmuan Syeikh telah mempelajari penulisan risalah tasawuf atau keagamaan yang demikian sistematis dan bersifat ilmiah. Sebelum karya-karya Syeikh muncul, masyarakat muslim Melayu mempelajari masalah-masalahagama, tasawuf dan sastra melalui kitab-kitab yang ditulis di dalam bahasa Arab atau Persia. Di bidang sastra Syeikh mempelopori pula penulisan puisi-puisi filosofis dan mistis bercorak Islam, kedalaman kandungan puisi-puisinya sukar ditandingi oleh penyair lan yang sezaman ataupun sesudahnya. Penulis-penulis Melayu abad ke-17 dan 18 kebanyakan berada di bawah bayang-bayang kegeniusan dan kepiawaian Syeikh Hamzah Fansuri. Di bidang kesusastraan pula Syeikh Hamzah Fansuri adalah orang pertama yang memperkenalkan syair, puisi empat baris dengan skema sajak akhir a-a-a-a syair sebagai suatu bentuk pengucapan sastra seperti halnya pantun sangat populer dan digemari oleh para penulis sampai pada abad ke-20.
Namun karena ajaran dan pemahaman filosofis beliau yang menganut Thariqah Qadiriyah yang berpaham wujudiah, beliau dan pengikutnya dianggp sesat oleh Syeikh Nuruddin Ar Raniri dan seluruh pengikut dan karyanya pun banyak di bakar habis oleh sultan-sultan.
Sesungguhnya ketiga ulama sufi berbeda zaman itu punya banyak persamaan, yaitu rasa kecintaan yang teramat dalam kepada sang khalik, sehingga ajaran-ajaran beliau sungguh sangat sulit untuk di mengerti oleh mansia yang tingkat spiritualnya belum terlalu tinggi, sebagaimana dalam mencari Tuhan itu perlu bimbingan dan pengtahuan yang lebih, Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ;
1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt salat, zakat dll);
2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu;
3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan
4. Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya.
Semoga bermanfaat..al fateha

Thursday, 4 January 2018

10 Pantangan Bagi Sufi

*10 PANTANGAN BAGI SUFI*

Dalam kitab Al-Ghunyah Lithalibi Thariq Al-Haqq, *Syekh Abdul Qadir Al-Jailani* mengungkap 10 pantangan yang harus dihindari bagi sufi yang sedang melakukan mujahadah dan muhasabah, yakni:

*Pertama*, pantang bersumpah demi Allah, terlepas dari apakah yang dikatakan itu benar atau bohong, baik sengaja atau tidak sengaja. Ketika seseorang telah mengokohkan prinsip tersebut dalam dirinya dan membiasakan pada lisannya, niscaya Allah akan membukakan satu pintu dari cahaya-cahaya-Nya, meninggikan derajatnya dan dikuatkan tekad dan pandangannya.

*Kedua*, pantang berbohong baik serius ataupun bercanda. Jika mampu melakukannya, maka Allah akan melapangkan dadanya dan menjernihkan pengetahuannya, hingga ia tak lagi mengenal dusta.

*Ketiga*, pantang menjanjikan sesuatu kepada siapa pun, lalu urung memenuhinya, meski mampu mewujudkannya, kecuali memang ada alasan yang jelas. Lebih baik dia menghilangkan kebiasaan janji-janji. Jika mampu melakukannya, Allah akan membukakan pintu kemudahan dan derajat malu, dan memberi kasih sayang di tengah-tengah orang-orang jujur, serta menaikkan derajatnya di sisi Allah.

*Keempat*, pantang mencaci-maki makhluk lain, meski makhluk itu seukuran biji sawi atau lebih kecil lagi. Ini adalah akhlak kaum shaleh dan shiddiqin yang menghasilkan sesuatu yang baik, berupa perlindungan Allah di dunia dan derajat tinggi di sisi-Nya di akhirat.

*Kelima*, pantang mencaci-maki atau mendoakan hal-hal buruk kepada seseorang, meskipun orang itu dzalim. Ia harus memaafkan orang itu karena Allah, dan tidak membalas balik dengan ucapan ataupun perbuatan. Jika mampu melakukan itu, Allah akan memberi kedudukan terhormat di dunia dan akhirat, meraih cinta kasih segenap makhluk, baik jauh atau dekat, serta akan dikabulkan doanya.

*Keenam*, pantang menyebut musyrik, kafir, dan munafik kepada Ahli Kiblah (Muslim). Laku ini akan menjauhkan dari murka Allah dan mendekatkan kepada ridha dan kasih sayang Allah. Menjadi pintu mulia menuju Allah yang membuat si hamba dikasihi oleh segenap makhluk.

*Ketujuh*, pantang berpikir dan berangan-angan melakukan kemaksiatan, lahir dan batin, serta mencegah anggota tubuhnya dari hal itu. Ini adalah amalan yang paling cepat mendapat pahala bagi kalbu maupun fisik di dunia, disamping pahala di akhirat.

*Kedelapan*, pantang menggantungkan biaya hidupnya kepada siapa pun, baik dalam jumlah sedikit atau banyak, pada saat memerlukan ataupun tidak. Sikap semacam ini akan melengkapi kemuliaan ibadah dan kehormatan ahli takwa, dan ini adalah pintu terdekat pada keikhlasan.

*Kesembilan*, pantang bersikap tamak terhadap apa yang dimiliki manusia. Ini adalah kemuliaan terbesar, kekayaan sesungguhnya, kekuasaan agung, kebesaran yang luhur, keyakinan yang benar, dan kepasrahan yang tepat. Ia merupakan satu pintu keyakinan kepada Allah dan pintu zuhud yang mengantarkannya pada warak.

*Kesepuluh*, pantang bersikap takabur dan harus selalu tawaduk. Sikap rendah hati ini akan menguatkan posisi hamba, meningkatkan derajatnya, menyempurnakan kemuliaannya di sisi Allah dan makhluk-Nya. Laku ini adalah dasar dan penyempurnaan seluruh ketaatan. Dan, menjadi tujuan mulia kaum zuhud ahli ibadah.

*--- Syekh Abdul Qadir Al-Jailani*
dalam kitab Al-Ghunyah Lithalibi Thariq Al-Haqq.

Wednesday, 3 January 2018

Ilmu Tasawuf

Ilmu Tashowwuf adalah ilmu yg mempelajari tentang usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan Ma’rifat menuju keabadian,saling mengingat kan antara manusia, serta berpegang teguh pada janji ALLAH dan mengikuti syari’at Rosululloh dalam mendekatkan diri dan mencapai keridhoan NYA.Satu satunya jalan yg dapat mendekatkan diri kepada ALLAH harus mengerjakan 4 perkara yaitu:1. Syari’at maksudnya mendirikan perintah perintah Hukum ALLAH dan menjauhi laranganNYA serta mengerti melaksanakan hukum hukum agama Islam.
2. Thoriqoh maksudnya Metode/Jalan agama agar lebih telitii dan bersungguh sungguh mendirikan perintah dan melatih diri (Riyadho) serta ibadah kepada ALLAH SWT.
3. Hakekat maksudnya Kebenaran yang Haq sampainya maksud dan dapat merasakan lezatnya dan nikmatnya ibadah kepada ALLAH.
4. Ma’rifat maksudnya ‘pengetahuan atau pengalaman’. Ma’rifat dapat pula berarti ‘pengetahuan rahasia Haqiqoh agama yaitu ilmu yg lebih tinggi dari pada ilmu yg di dapat oleh orang orang pada umumya’. Ma’rifah merupakan pengetahuan yg objeknya bukan hal hal yg bersifat dzahir, tetapi lebih bersifat bathin dengan memahami RAHASIANYA. Pemahaman ini berwujud penghayatan atau pengalaman kejiwaan. Ma’rifah sering digunakan untuk menunjukkan salah satu tingkatan atau hal (kondisi psikologis) dalam tasawuf. Dalam wacana sufistik, Ma’rifah diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati sanubari .Syari’at itu di ibaratkan seperti bahtera yg mejadi alat yg bisa berlayar di lautan. Thoriqoh seperti lautan yg ada mutiaranya. Dan mutiara itu adalah Hakekat yg dicari dalam thoriqoh.Memiliki Mutiara adalah Ma’rifat.

Monday, 1 January 2018

Rumus Dunia Penghambaan

Saya ingin menceritakan kepada Anda tentang kehidupan di dunia hati, yaitu dunia tasawwuf—yang saya sendiri diceritakan juga oleh guru-guru saya. 
Dunia penghambaan atau yang kita sebut dengan dunia tasawwuf sejati, adalah dunia yang tidak seperti rumus-rumus di dunia formal. Dunia tasawwuf atau penyembahan kepada Allah itu kebalikan dari formalitas.
Jika ada orang yang mengatakan dia dekat dengan Allah, sesungguhnya dia sangat jauh. Jika ada orang yang mengatakan ibadahnya sangat banyak, pamer puasa, pamer tahajjud, sesungguhnya dia tidak pernah melakukan apa-apa. Jika ada orang berdoa di facebook untuk dirinya sendiri sambil melolong menagih-nagih kebaikan-kebaikannya, sesungguhnya dia memang sedang melolong.
Syaikh Abu Madyan al-Maghribi, dalam al-Hikam al-Ghautsiyah,mengetengahkan sebuah rumus dunia penghambaan seperti ini: 
“Siapa saja yang menghamba kepada Allah, dia akan melihat amal-amalnya sebagai amal yang riya’, menyaksikan ahwalnya hanya sebagai hal yang “ngaku-ngaku” saja, dan menyaksikan ucapan dan perbuatannya sebagai kebohongan."
Artinya, orang-orang yang menghamba kepada Allah itu tak pernah merasa paling dekat dengan Allah. Sebaliknya, dia selalu merasa kurang dekat (masih jauh), dan kurang terus. Dia merasa amalnya selalu kurang. Itulah sebabnya Nabi SAW selalu meminta ampun kepada Allah. Bukan karena Nabi SAW banyak dosa, tetapi karena Nabi SAW merasa kurang dekat kepada Allah SWT, seperti seorang kekasih yang selalu merasa rindu kepada kekasihnya tercinta. 
Seorang kekasih yang seperti ini akan selalu memberikan hadiah-hadiah yang terbaik. Setelah memberi hadih satu, dia merasa kurang, lalu memberikan hadiah yang lainnya lagi. Setelah mengarang puisi, dia merasa puisinya kurang puitis, lalu mengarangnya lagi. Begitu terus.
Jika terjadi yang sebaliknya, maka Abu Madyan mengatakan, saksikanlah bahwa dia bukanlah orang suci yang Anda cari-cari.